Karya Edukasi, bukan Estetika
Ulasan film 1000 Potret di antara 2 sosok yang tayang di TVRI pada Selasa, 22 September 2020.
Film yang didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2012 ini memang cocok ditayangkan di televisi dan menjadi program edukasi bagi penontonnya, narasinya secara garis besar syarat akan nilai-nilai edukatif. Namun, narasinya memunculkan banyak pertanyaan juga terkait kesinambungan cerita.
Iben, tokoh utama yang bekerja sebagai jurnalis lepas yang selalu membawa kamera kemanapun sebagai sarana mengumpulkan bahan reportase, telah lulus sarjana dan berniat melanjutkan studi paska sarjana di Amerika seperti kakak-kakaknya yang melanjutkan studi ke luar negeri, tetapi harapan Iben pupus karena ia ditolak beasiswa dan berdalih bahwa ia tidak bisa studi ke Amerika tanpa beasiswa, untuk ongkos saja tidak punya. Tetapi nyatanya, Iben adalah anak dari seorang juragan sapi, bahkan Abah (ayah Iben) mampu mempekerjakan beberapa orang untuk mengurus sapi-sapinya. Itu menjadi salah satu kejanggalan dalam film ini. Iben juga akhirnya diharuskan memimpin peternakan sapi milik Abah karena Abah sedang dirawat di rumah sakit.
Iben, sebagai tokoh utama, ia ada dalam seluruh cerita namun bukan pemilik cerita. Seperti judulnya, Cerita justru datang dari tokoh/potret-potret lian, yakni tokoh bernama Memet, anak remaja laki-laki seumuran adik Iben yang sering melempar jangkrik ke rumah Iben saat petang. Motif yang dilakukan Memet membuat Iben mencari tahu pelaku pelempar jangkrik. Suatu hari, Iben ke belakang rumahnya dengan menggunakan penutup kepala seperti perampok. Memet yang terkejut lari dan berteriak "perampok! perampok!".
Tiga hari kemudian, warga desa Sukaresmi, Bogor itu digegerkan dengan hilangnya seorang anak, usut punya usut anak itu adalah Memet, ibunya bilang, Memet tahu rumah pamannya di Depok, kemungkinan besar ia kesana. Benar saja, Memet ada di sana, pamannya menghubungi Iben setelah Iben memasukkan info anak hilang dalam redaksi berita di televisi. Kejanggalan muncul lagi, bagaimana bisa seorang anak kecil pergi dari Bogor ke Depok sendirian saat petang dan tanpa uang.
Tersebarnya berita Memet hilang akhirnya membuat ayah kandung Memet menemuinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu karena ayahnya dipenjara akibat merampok.
Edukasi yang ingin disampaikan dalam film adalah tolong menolong, dan membantu orang tua. Tetapi, edukatif yang bagus itu tidak diimbangi dengan visual yang baik. Adegan pembuka saat Abah mulai stroke terkesan saat terburu-buru dan absurd, cutting yang cepat membuat penonton sulit memahami informasi awal. Sinematografi seluruh film pun tidak rapi dan lebih mirip dengan sinetron kejar tayang, termasuk lakon yang dilakukan aktor-aktornya dan musik latarnya.
Sehingga, dengan ketidakselarasan antara narasi dan visualnya, membuat film ini kurang menarik apalagi untuk sebuah konten edukasi, karena selain pesan yang akan disampaikan, ada baiknya apabila filmmaker memperhatikan sisi psikologis dan reaktif penonton saat menerima suguhan visual yang ada.
#Ulasfilmkemdikbud
Lisa Nurholiza, 19 tahun, Kota Cilegon, Banten
Komentar
Posting Komentar