Pertemuan, Isu Cinta, Meninggalkan dan Ditinggalkan
Ulasan Film Salawaku yang tayang di TVRI pada 23 September, 2020
Pertemuan memang sebuah kejadian unik yang semesta perbuat bagi penghuninya. Pertemuan adalah sebuah awal, awal dari kisah bahagia maupun tragis, karena pertemuan pasti akan berakhir dengan meninggalkan atau ditinggalkan. Begitu juga yang terjadi pada Salawaku, bocah laki-laki etnis Ambon asal Pulau Seram, Maluku yang bertemu dengan wanita Jakarta yang sedang berlibur, Saras. Pertemuan mereka menjadi awal kisah perjalanan mereka bersama Kawanua menuju Piru dan menemui Binaya, kakak Salawaku sekaligus kekasih Kawanua.
Pertemuan mereka menjadi sebuah kisah yang diakhiri kebahagiaan, diselingi kisah pilu, marah, ambisi, jenaka hingga perbedaan. Juga siapa yang sangka, bahwa pertemuan mereka mengarah pada satu isu yang sama-sama melatarbelakangi kisah mereka kini, cinta.
Obrolan kecil Kawanua dan Saras saat bermalam di bibir pantai membuka isu tentang cinta, terus berlanjut hingga obrolan malam Binaya dengan Saras di teras rumah, durasi itu mengisahkan antara dua kisah cinta yang sama namun berakhir berbeda. Akhir kisah cinta Kawanua dan Binaya memberi contoh bahwa tidak selamanya kita ditinggalkan atau meninggalkan seperti yang dialami Saras, masih ada pertemuan baru kelak, entah kapan, dengan siapa, atau dimana.
Kisah cinta Saras yang tidak mungkin melenggang ke pernikahan dan menggugurkan calon bayinya, menjadi kejutan bagi penonton yang awalnya hanya mengira Saras sedang berlibur ke Pulau Seram. Penonton pun dikejutkan dengan perilaku Kawanua yang 'menghambat' perjalanan mereka ke Piru karena ternyata ia belum siap bertanggung jawab untuk calon bayi yang telah dikandung Binaya.
Sedangkan Salawaku adalah sosok yang amat sayang dengan keluarganya, ia merasakan kekosongan saat ditinggalkan Binaya di awal film, kekosongan Salawaku mampu tersampaikan tanpa narasi, terlihat melalui shot awal Salawaku yang didominasi ruang hampa dan kosong pada langit dan lautan. Salawaku juga sosok ambisius, tujuannya ke Piru yang terhambat-hambat menjadi sebuah kerangkeng untuknya, ia terus melawan, dengan cara apapun, ia akan mencapai tujuannya. Karakter polos anak SD timur tergambar ketika Salawaku tidak memahami kata-kata Saras seperti sunset, gokil, like and comment, dan 'gagal paham'.
Karakter Salawaku jua mewakili karakter tokoh anak-anak yang juga punya masalahnya sendiri, sama seperti dewasa-dewasa lainnya. Hidup tanpa ayah sejak kecil, ditinggal Mama, hingga Kakaknya yang harus pergi jauh ke Piru agar menutupi aib dan menghindari malu, namun ketegaran sosok Salawaku walaupun ia masih anak-anak, menggambarkan tentang sifat kedewasaan yang tidak pandang umur. Julukan "Labu Jua Punya Hati" (Sekeras-kerasnya watak orang Ambon, tetap berhati lembut) tercermin oleh Salawaku saat ia menolong Saras hingga akhirnya menjadi gerbang pertemuan dan kisah perjalanan mereka.
Sinematografer film ini, Fozan Rizal, meraih penghargaan pengarah sinematografi terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2016, gambar-gambar apik yang mengeksplor keindahan alam Maluku ini memang menjadi suguhan menarik bagi penonton, komposisi tiap shot-nya sangatlah apik, diselaraskan dengan peran aktor yang sangat melekat dengan kisah dalam film, membuat emosi penonton ikut tumpah ruah dalam mengikuti kisah perjalanan ini. Film arahan Pritagita Arianegara ini mampu mengemas film genre perjalanan dengan kisah apik juga complicated yang tidak melulu tentang hambatan perjalanan itu sendiri, serta menghadirkan kisah lain atas perjalanannya.
#Ulasfilmkemdikbud
Lisa Nurholiza, 19 tahun, Kota Cilegon, Banten


Komentar
Posting Komentar