Kematian: bagi yang ditinggalkan, yang sedih semakin sedih
Ulasan Film Kembalilah dengan Tenang yang Tayang di TVRI 24 September 2020
Kematian adalah kepastian bagi semua yang hidup, misteri akan waktu kematian membuat ketakutan-ketakutan internal dalam diri setiap makhluk. Kesedihan yang timbul akibat kematian menimpa makhluk-makhluk lain di sekitarnya, khususnya manusia. Ditinggalkan seseorang menuju hakikatnya pada sang pencipta membuat si hidup mereaksikan respon tangis, depresi, dan lain-lain.
Kematian dalam eksistensinya dalam manusia, si makhluk paling serakah di bumi, menjadi sebuah hal yang dimanfaatkan oleh manusia lain, memanfaatkan kesedihan dan limit waktu yang ada, seperti dalam kisah Agung, remaja 18 tahun yang meninggal. Sebagai anak tunggal, orang tuanya tentu merasa kehilangan yang amat mendalam. Keadaan ekonomi orang tua yang kekurangan semakin ditambah benturan-benturan lain disaat yang sama saat anaknya meninggal, mulai dari supir ambulan yang meminta tip, harga tanah kuburan yang dibanderol mahal, keharusan menyuguhkan sajian bagi pelayat, keharusan memberi amplop bagi tetua kampung yang menjadi pemimpin doa bagi si jenazah. Belum lagi gunjingan tetangga akan asal usul kematian jenazah, pembahasan sensitif yang menjadi topik hangat bagi pada pelayat atau warga sekitar.
Pemanfaatan keadaan dan kebiasaan perilaku ketika seseorang meninggal dunia akhirnya melahirkan kesedihan lainnya, melahirkan kesedihan baru bagi yang ditinggalkan, Ayah Agung yang rela mengutang demi melunasi biaya kematian di rumah sakit, membeli makanan sajian bagi pelayat, tip supir ambulan, amplop tetua desa, hingga uang utangannya keburu habis dan tidak cukup guna urusan pemakaman Agung. Adanya lahan makam yang terjangkau bagi ekonomi Ayah Agung, kembali membuat dilema baru karena lahan tersebut sejatinya sudah berisi mayat seseorang yang tidak diurus keluarganya, dengan kata lain Agung akan ditumpuk di makam yang sama. Ketiadaan rasa kemanusiaan atas dasar pemanfaatan keadaan menjadi yang ditinggalkan semakin sedih, khususnya bagi kalangan bawah.
Kultur yang ada di Indonesia tentang kematian, khususnya di Jawa, malah menjadikan orang-orang yang ditinggalkan semakin sedih, semakin lara akan keharusan-keharusan lain yang sudah menjadi tradisi saat 'acara kematian'. Lain halnya dengan di Sumatera yang memiliki tradisi sumbang-menyumbang bagi orang yang baru saja ditinggalkan, masyarakat sekitar gotong royong membantu pengurusan jenazah, menyumbang uang, makanan atau tenaga untuk 'acara kematian', seperti saat kematian ayah saya 2018 lalu di Bengkulu.
Di saat seperti ini, kita harus lebih berfikir akan sisi-sisi kesedihan lain bagi yang ditinggalkan, tolong menolong haruslah dilakukan saat kematian mendera, atas dasar rasa kemanusiaan. Terkutuklah orang-orang yang memanfaatkan keadaan kematian, membuat yang ditinggalkan yang sudah sedih, semakin sedih. Film arahan Reza Fahriyasyah ini mengajarkan kita tentang itu, membawa penonton merasakan sisi lain manusia yang ditinggalkan, mempertanyakan sisi kemanusiaan yang sebenarnya.
#Ulasfilmkemdikbud
Lisa Nurholiza (19 tahun), Kota Cilegon, Banten
Komentar
Posting Komentar