Apalah Ber-arti-nya Sebuah Nama

Ulasan Film Pendek Onomastika yang tayang di TVRI 24 September 2020

Ungkapan "apalah arti sebuah nama" memang harus dihempas sejauh-jauhnya, apapun argumen mengenai itu pasti akan tertampar ketika dihadirkan dalam keadaan tanpa nama, nama bukanlah sebuah hal remeh tak berarti, nama bisa menimbulkan masalah. Bahkan sesuatu yang tak bernama pun akhirnya menjadi masalah.

Situasi tanpa nama itu dihadirkan dalam film arahan Loeloe Hendra melalui kisah Seorang Anak Laki-laki yang hidup dengan Kakeknya setelah orang tuanya meninggal. Ia tidak sekolah, hanya diajarkan oleh Kakeknya, Kakeknya pernah dongen tentang sebuah desa dengan fenomena susah tidur yang menimpa seluruh warga, sampai mereka lupa nama mereka masing-masing. Hal itu pula yang menimpanya, Ia tidak memiliki nama, namun keadaan Anak Laki-laki itu justru berbanding terbalik dengan Kakeknya, Kakeknya memiliki banyak nama dalam banyak bidang, menjadi Abu Asma ketika menulis cerpen untuk koran kota, menjadi Dipa Nusantara saat berkelana, dan lain-lain.

Pertanyaan penonton tentang mengapa tidak Kakeknya saja yang memberi nama pun menjadi pertanyaan yang sama bagi tokoh utama, Anak Laki-laki itu kepada Kakeknya. Kesulitan yang Anak itu hadapi saat bertemu manusia lain menjadi hambatan dan masalah baru tentang ketiadaan identitas yang dimiliki si Anak walau hanya sebatas nama. Pertanyaan mengenai nama-nama benda, makanan, dan tanaman di sekitar si Anak semakin menambah beban pada pemikirannya mengenai siapa yang memberi mereka nama? siapa yang berhak memberi nama? dan mengapa dinamakan itu?.

Permintaan dan pertanyaan akan nama sebagai identitas si Anak pada Kakek pun berulang kali dilontarkan, dalam bentuk tersurat maupun tersirat, tapi lagi-lagi Kakek hanya berdalih dan menyerahkan semua hak pada si Anak atas namanya sendiri. Kakek juga bertuah bahwa jika nama hanyalah sebuah nama, mengapa mencari nama yang cocok saja malah menjadi sebuah masalah?.

Nama sebagai identitas memang sangat diperlukan, pasalnya, nama adalah dasar dari segala hal di dunia ini. Bahkan gabungan seluruh semesta ini pun memiliki nama, 'Dunia'. Nama sebagai identitas membawa pemiliknya menjalin relasi, sebagai tanda, dan sebagai jawaban bagi siapapun yang bertanya. Identitas dalam hubungannya dengan nama berperan sebagai rangkaian kata yang merepresentasikan atas pemilik nama tersebut selain bentuk fisik yang jelas dimiliki si pemilik nama. Berartinya sebuah nama tidak hanya berlaku bagi manusia sebagai identitasnya, tetapi berlaku bagi segala hal di dunia ini. Rangkaian huruf bernama 'kata', rangkaian kata bernama 'kalimat', dsb.

Pemberian sebuah nama juga erat kaitannya dengan sejarah, latar belakang, pengembangan dari akar bahasa atau berasal dari mana nama tersebut diserap, seperti street food di Jawa Barat yang bernama 'Odading' yang sedang populer, ternyata memiliki latar belakang tentang pemberian namanya, yakni berasal dari Bahasa Belanda Oh Dat Ing (Oh yang itu). 

Namun terkait pemberian nama pada manusia, nama umumnya mengandung sebuah makna yang agung, kebaikan, hingga doa. Namun seiring berputarnya zaman, nama manusia menjadi sebuah hal gengsi, stigma nama kota/kampung yang mulai terbangun, tak jarang pula nama masa kini menjadi abstrak, seperti nama anak ke-6 Elon Musk yang sempat trending dalam jagat Twitter, X Æ A-XII, beberapa orang membacanya Xash Arcangle. Tetapi, berartinya sebuah nama juga terkait kebebasan, kebebasan menentukan dan kebebasan memilih.

#Ulasfilmkemdikbud

Lisa Nurholiza, 19 tahun, Kota Cilegon, Banten


Komentar

Postingan populer dari blog ini