Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau
ulasan film "Sebelum Pagi Terulang Kembali" yang tayang di TVRI pada 29 September 2020.
Hidup dia enak, ya, pasti tidak ada masalah.
Pernah dengar kalimat tersebut? Atau pernah mengungkapkan kalimat tersebut? Membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, padahal pepatah berkata dengan jelas bahwa rumput tetangga terlihat lebih hijau.
Jawaban atas keresahan itu terjawab dalam film "sebelum pagi terulang kembali" karya sutradara Lasja F. Susatyo yang mengangkat sebuah kisah keluarga yang diwarnai polemik kehidupan. Ceritanya yang kompleks hampir saya sangka bahwa film ini non-linier, gabungan isu keluarga, pekerjaan, korupsi, integritas, perselingkuhan, stigma masyarakat, dan perbandingan antar kehidupan sendiri terbangun baik dalam film ini. Film yang didukung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini sangat membuka mata penonton tentang masalah korupsi, awal terjadinya tindak pidana korupsi hingga sanksi akan pelakunya. Namun, ada sisi lain yang cukup menarik untuk ditilik, keluarga.
Yan, kepala keluarga yang bekerja di DPR dan terkenal akan integritasnya yang tinggi dan anti korup, memiliki tiga anak dengan isterinya, Ratna, seorang dosen filsafat FIB UI. Firman, anak pertamanya, memiliki 2 anak, Firman sudah cerai dan kembali tinggal bersama Yan dan Ratna. Satria, anak kedua mereka, kontraktor ambisius yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Yan. Dian, anak ketiga mereka yang ingin menikah dengan Hasan, seorang DPR juga yang sama ambisinya dengan Satria.
Keluarga mereka cukup bisa disebut sebagai format keluarga yang bahagia, ayah ibu lengkap, nenek yang ikut tinggal bersama mereka, serta anak-anak yang sudah dewasa. Hingga masalah pertama muncul saat proposal milik Yan di DPR soal Proyek Muara Tanjung harus direvisi dalam waktu satu hari, Yan meminta bantuan pada Satria, anak keduanya. Di saat yang bersamaan, Firman mulai tinggal bersama mereka lagi karena sudah bercerai dengan isterinya dan menganggur, Yan yang merasa kasihan terhadap anak pertamanya itu kembali meminta tolong Satria untuk memberikan "kegiatan" untuk kakaknya. Satria melakukannya, namun ambisinya menggilas keikhlasan hati seorang anak, ia minta "jatah" di proyek muara tanjung, sudah tentu, Yan menolaknya.
Penolakan ayahnya tidak membuat Satria kapok, ia mendekati Hasan, calon suami adiknya yang juga DPR untuk membukakan jalan baginya menjadi bagian dari proyek muara tanjung, juga memberi "kegiatan" kepada Firman sebagai kurir uang gelap, tindakan Satria yang akhirnya diketahui Yan membuatnya mengambil keputusan besar, mengambil pensiun dini.
Klimaksnya adalah ketika malam sebelum Dian dan Hasan menikah, datang seorang perempuan dan anak laki-laki yang ternyata isteri dan anak Hasan, terungkap juga bahwa Satria mengorbankan adiknya guna kelancaran proyeknya bersama Hasan, Firman yang ketahuan selingkuh dengan Nisa, pembantu sekaligus isteri dari supir Yan. Kehancuran itu semakin ditambah ketika pelayat-pelayat menggunjing keluarga mereka saat hari kematian Oma, juga Firman dan Satria yang akahirnya terciduk KPK dan masuk penjara.
Kehidupan keluarga yang terlihat apik, pasangan yang berintegritas, anak-anak yang sudah dewasa dan sukses, tidak cukup menjadikan kebahagiaan tumbuh dalam sebuah rumah dengan leluasa. Pasti ada aral yang melintang, hambatan kebahagiaan yang membuat rapuh seluruh perasaan keluarga itu. Pandangan akan rumput tetangga lebih hijau ada pada adegan saat supir Yan dan pembantunya sedang di rumah, berpikir bahwa mereka amatlah kekurangan, mengidamkan keluarga seperti keluarga Yan. Padahal jika dilihat kembali, justru merekalah si rumput hijau, hidup bahagia di rumah yang sederhana, berbagi kisah sambil makan mie instan di balkon menghadap lanskap kota bersama.
Film ini sangat apik dalam mengemas hal tersebut, detail-detail informasi lewat visual sangat tersampaikan dan membuat penonton paham akan semua seluk beluk permasalahan dan ruwetnya masalah keluarga Yan yang teringkas hanya dalam durasi 1 jam 40 menit, salut!
Lisa Nurholiza (19) Kota Cilegon, Banten
#ulasfilmkemdikbud
Komentar
Posting Komentar